"Xiao Lin, aku heran, bagaimana mungkin pria sepertimu bisa memiliki istri secantik Yun Qing?" sindir Huo Jun dengan senyum sinis yang membuat niat jahatnya jelas terlihat. Matanya menyipit, penuh dengan ejekan.

Lynx berhenti menyapu sejenak, menatap Huo Jun dengan tatapan bingung namun tidak menjawab. Ia tidak memahami maksud hinaan itu, tetapi ada perasaan tidak nyaman yang menyelusup dalam dirinya.

Huo Jun mendekat, suaranya berubah menjadi bisikan licik. "Bagaimana kalau aku memberimu makanan enak, tapi izinkan aku bersama istrimu, hanya untuk satu hari saja?" ucapnya, matanya berkilau dengan niat busuk.

Lynx tiba-tiba mematung, rahangnya mengeras. Emosi yang jarang terlihat di wajahnya kini tampak jelas. "Tidak, tidak boleh, Kamu tidak boleh mengganggu Qing-er," balasnya dengan nada yang tajam, matanya menatap langsung ke arah Huo Jun.

"Huh, percuma berbicara denganmu," kata Huo Jun dengan suara rendah, langkahnya mundur sedikit melihat tatapan mata pria didepannya yang terasa menakutkan. Namun, senyumnya masih ada, penuh sindiran. "Tapi tidak masalah. Aku yakin, tidak lama lagi kamu bahkan akan lupa apa yang baru saja aku katakan."

Dalam hati, Huo Jun bergulat dengan rasa cemburu dan niat busuknya. "Aku harus mencari cara untuk menyingkirkan dia. Selama dia masih hidup, Yun Qing tidak akan pernah menjadi milikku," pikirnya dengan dingin.

Setelah beberapa saat, Huo Jun berbicara lagi, kali ini dengan nada yang lebih ringan, seolah mengalihkan pembicaraan. "Xiao Lin, apa kamu ingat kejadian kemarin siang?" tanyanya, matanya meneliti dengan cermat setiap gerakan Lynx.

Lynx hanya menggelengkan kepalanya, kebingungan. "Aku tidak ingat," jawabnya singkat, lalu kembali menyapu tanpa memikirkan pertanyaan itu lebih jauh.

Huo Jun menyipitkan matanya, memutar ulang ingatan tentang kejadian kemarin. Ia ingat jelas bagaimana ia dan tiga temannya menyerang Lynx dengan brutal ketika Yun Qing tidak ada di rumah. Mereka meninggalkannya dengan tubuh penuh luka. Namun, sekarang, pria itu berdiri di hadapannya, sehat tanpa bekas luka sedikit pun.

"Apa-apaan orang ini? Luka-lukanya selalu sembuh dalam waktu singkat... apa dia seorang kultivator?" pikir Huo Jun, rasa penasaran bercampur ketakutan menguasai pikirannya.

Untuk menjadi seorang kultivator, dibutuhkan bakat serta dantian yang mumpuni. Setiap individu memiliki dantian, namun ukuran dantian tersebut sangat mempengaruhi seberapa banyak kekuatan yang dapat mereka serap dari energi spiritual atau disebut Qi yang bertebaran di alam.

Selain itu, untuk mempercepat peningkatan kekuatan, diperlukan beragam sumber daya, seperti tumbuhan atau tanaman spiritual, serta benda-benda yang mengandung kekuatan spiritual, seperti batu kristal spiritual.

Namun, karena tingginya harga sumber daya ini, hanya orang-orang kaya atau mereka yang berasal dari keluarga kultivator yang memiliki kesempatan besar untuk menjadi kultivator. Salah satu cara yang umum dilakukan adalah dengan berburu hewan iblis untuk mendapatkan batu kristal iblis yang terkumpul di dalam tubuhnya.

Hewan iblis sendiri tampak serupa dengan hewan biasa, tetapi ada satu perbedaan mencolok: mereka memiliki kemampuan untuk menyerap energi spiritual. Energi yang mereka serap ini akan terakumulasi menjadi batu kristal yang berharga.

Dia menatap ke arah rumah, memastikan Yun Qing tidak melihatnya. Rasa frustrasinya semakin memuncak ketika rencananya untuk menghancurkan Lynx selalu gagal. "Lihat saja, Xiao Lin. Aku pasti akan menemukan cara untuk membunuhmu. Cepat atau lambat, Yun Qing akan jadi milikku," gumamnya pelan sebelum pergi dengan langkah kesal.

Di dalam rumah, Yun Qing yang diam-diam memperhatikan percakapan itu segera keluar menemui Lynx. Kekhawatirannya jelas terlihat di wajahnya. "Kepala suku, eh, Xiao Lin... apa yang Huo Jun katakan kepadamu?" tanyanya cemas. Ia sudah terlalu sering mendengar keluhan para tetangga tentang kelakuan Huo Jun yang sombong dan licik.

"Siapa Huo Jun? Aku tidak mengenal nama itu," jawab Lynx polos, berusaha mengingat, tetapi ekspresinya kosong.

"Dia pria yang tadi menyapamu," jelas Yun Qing lembut, meski merasa sedikit frustasi dengan ingatan Lynx yang selalu hilang.

"Dia tidak menggangguku," jawab Lynx akhirnya, senyum tipis muncul di wajahnya. Ia tidak ingin menambah beban pikiran Yun Qing dengan masalah kecil seperti ini. Meski kehilangan ingatannya, sifat Lynx yang baik hati dan cenderung melindungi tetap terpancar dalam dirinya.

Namun, Yun Qing tidak yakin. Kemarin saat dia pulang dari mengantarkan pakaian, dia menemukan Lynx di tanah dalam kondisi terluka. Dia menanyakan siapa yang melukainya, namun Lynx tetap diam.

"Paling tidak, kekuatan pemulihan tubuh kepala suku masih ada, jadi khawatirku bisa lebih berkurang," batinnya.

Dia menggigit bibirnya pelan, memikirkan kembali sikap Huo Jun. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Dalam hati, ia bersumpah untuk selalu mengawasi Lynx dan memastikan pria itu tidak menjadi korban lagi. "Aku harus mencari cara agar dia tetap aman," pikir Yun Qing, tekadnya semakin kuat.

"Baguslah kalau memang dia tidak mengganggumu. Ayo kita masuk untuk sarapan," kata Jelita sambil menarik tangan Lynx dengan lembut, senyum kecil terlukis di wajahnya.

Setiap kali ingatan Lynx hilang, Jelita selalu dengan sabar membimbingnya kembali, mengingatkan siapa dirinya dan apa yang terjadi. Namun ada satu hal yang tidak pernah hilang dari ingatan Lynx, yaitu nama Leena.

Pernah suatu kali, Jelita sengaja mencoba sesuatu yang nekat. Dia mengaku bahwa dirinya adalah Leena dan mencoba mendekati Lynx lebih intim. Tetapi, reaksi Lynx mengejutkan. Alam bawah sadarnya tampaknya menyadari kebenaran yang tidak dapat dia ingat sepenuhnya. Ia mendadak mengamuk, tubuhnya gemetar seolah menahan rasa sakit luar biasa sambil berteriak, "Kamu bukan Leena! Bukan Leena!" Jeritannya begitu keras hingga membuat Jelita terdiam dengan perasaan campur aduk. Seolah meskipun Lynx tidak ingat dirinya sendiri, ia tahu pasti siapa sosok Leena.

Sejak kejadian itu, Jelita tidak pernah mencoba menyebut nama itu lagi. Namun, di dalam hatinya, dia mulai memahami bahwa Leena adalah seseorang yang sangat berarti bagi Lynx, seseorang yang tidak bisa digantikan oleh siapa pun.

Sebagai bentuk kesetiaannya, Jelita rela melakukan segala hal untuk melayani Lynx. Ia memasak, mencuci, bahkan merawat Lynx dengan penuh kasih sayang. Dia akan melakukan apapun yang Lynx inginkan, termasuk menyerahkan tubuhnya. Tapi meskipun Lynx sering kehilangan ingatan, selalu ada semacam batas yang tidak dapat dia lewati, seolah di dalam ketidaksadarannya, dia menjaga dirinya untuk tidak mengkhianati sesuatu yang sangat berharga di hatinya.

Jelita pernah mencoba membawa Lynx ke tabib di desa itu, tetapi kemampuan tabib tersebut sangat terbatas. Tabib itu hanya bisa menggeleng dan berkata, "Penyakit seperti ini di luar kemampuanku. Tapi... mungkin obat ini bisa membantu. Minumkan secara teratur, siapa tahu ingatannya perlahan pulih." Tabib itu memberikan beberapa resep obat sederhana, yang kemudian harus ditebus oleh Jelita dengan uang hasil kerja kerasnya. Dan obat itu harus rutin dibelinya.

Adakalanya, di tengah semua kesulitan, Jelita merasa bahagia. Setidaknya dia masih bisa bersama Lynx, meski mereka hanya berdua. Tetapi jauh di lubuk hatinya, ia sadar betul bahwa ini bukan akhir perjalanan mereka. Lynx harus sembuh, karena hanya Lynx yang memiliki kekuatan dan kemampuan untuk menemukan teman-teman mereka yang terpisah.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi pada yang lain, tapi aku yakin mereka menunggu kita. Lynx, kamu adalah kunci untuk menyatukan kami kembali," gumam Jelita sambil memandangi Lynx yang sedang makan dengan tenang.

"Setelah makan, kamu bisa beristirahat sambil menungguku mencuci. Setelah itu, kita bisa ke pasar desa untuk menjual sayur yang ku petik pagi tadi," kata Jelita dengan lembut, senyumnya membuat suasana menjadi hangat.

Lynx menganggukkan kepalanya tanpa bersuara, merasakan ketenangan dalam kata-kata Jelita. Dia melanjutkan makannya dengan santai, menikmati setiap suapan dari makanan yang disiapkan dengan penuh perhatian oleh Jelita. Rasa hangat dari makanan itu seolah menyatu dengan rasa nyaman yang dia rasakan di dekatnya.

Setelah selesai makan, Lynx duduk tidak jauh dari Jelita, memperhatikan gerak-gerik perempuan itu yang sedang mencuci pakaian. Meskipun ingatannya akan kejadian-kejadian sebelumnya masih kabur, Lynx dapat merasakan pengorbanan yang besar dari Jelita dalam merawatnya.

